RSS

Puisi Pertaubatan Abu Nuwas

07 Okt

Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahabli taubatan wagfir dzunubi, fainnaka ghafirudz dzanbil ‘adzimi…
Ya Allah…tidak layak aku masuk ke surgamu
Tetapi, hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka, kami mohon taubat dan ampun atas dosaku
Sesungguhnya, Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa…

Dzunubi mitslu a’dadir rimali, fahabli taubatan ya dzal jalali
Wa ‘umri naqishu fu kulli yaumi, wa dzanbi zaidun kaifa htimali
Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai
Maka anugerahilah hamba taubat, wahai yang Memiliki Keagungan
Dan umur hamba berkurang setiap hari
Sementara, dosa-dosa hamba selalu bertambah, apalah dayaku….

Ilahi ‘abdukal ‘ashi ataka, muqirran bi dzunibi wa qad di’aka
Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wain tadrud faman narju siwaka
Ya…Allah hamba-Mu penuh maksiat, yang datang kepada-Mu bersimpuh memohon ampunan
Jika Engkau ampuni, memang Engkau adalah Pemilik Ampunan
Tetapi jika Engkau tolak, maka kepada siapa lagi aku berharap?

—Abu Nuwas—

Penggalan puisi di atas merupakan puisi  monumental karya Abu Nuwas yang sering dilantunkan oleh segenap umat Islam di segala penjuru. Baik itu menjelang shalat Maghrib ataupun menjelang shalat Subuh. Puisi pertaubatan Abu Nuwas ini dikenang sepanjang masa. Tetapi, hampir semua orang terutama di Indonesia terlanjur mengenal Abu Nuwas sebagai sosok pelawak. Mungkin hal ini akibat adanya pengaruh buku Hikayat Abu Nawas saduran Nur Sultan Iskandar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi bacaan wajib murid-murid sekolahan sejak tahun 1930 sampai 1950-an. Namun, dalam sekelumit tulisan ini yang ingin diungkap adalah kisah sejati seorang Abu Nuwas bukan sebagai seorang pelawak, tetapi Abu Nuwas sebagai seorang penyair kenamaan pada masanya.

Mengenal Sosok Abu Nuwas
Nama lengkapnya adalah al-Hasan bin Hani al-Hakami. Seorang sastrawan istana, kelahiran Ahwaz, Iran pada tahun 130 H/747 M (dalam al-Wasith fi Adabil Arabi wa Tarikihi dinyatakan bahwa tahun kelahiran Abu Nuwas adalah 145 H/762 M). Ibunya seorang wanita miskin yang bekerja sebagai tukang cuci kain wol yang terbuat dari bulu domba. Ibunya bernama Golban atau Jelleban. Sedang ayahnya adalah seorang serdadu Dinasti Bani Umayyah pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad. Sepanjang sejarah tidak diketahui latar belakang ayah Abu Nuwas, yang jelas nama ayahnya adalah Hani.
Karena Abu Nuwas lahir di Ahwaz, maka ia merasa kalau dirinya lebih sebagai orang Persia daripada orang Arab. Padahal, sebagian besar hidupnya dihabiskan di kota-kota yang kental dengan budaya Arab, seperti Basrah, Kufah, Bagdad. Bahkan, ia pernah hidup di tengah-tengah padang pasir dengan tujuan untuk dapat merasakan nilai-nilai sastra Arab masyarakat Badui.
Ketika masih kecil, sang ibu menjualnya kepada seorang pemilik toko dari Yaman yang bernama Sa’ad al-Yashira. Abu Nuwas muda bekerja sebagai seorang pembantu di toko milik tuannya di Basra, Irak. Keenceran otak Abu Nuwas banyak menarik perhatian orang di sekelilingnya. Salah satu yang tertarik atas keenceran otak Abu Nuwas adalah Walibah bin al-Hubab, seorang penulis puisi yang berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli Abu Nuwas dari tangan tuannya dan membebaskan dirinya sebagai budak belian.
Kecintaan al-Hubab pada Abu Nuwas membuatnya mengajarkan semua ilmu yang ia punya, di antara ilmu yang diajarkan kepadanya adalah teologi dan tata bahasa. Abu Nuwas pun diajari menulis puisi. Sejak saat itulah ketertarikan Abu Nuwas terhadap puisi semakin besar. Karena ketertarikannya yang besar akhirnya ia memutuskan untuk berguru kepada penyair Arab Khalaf al-Ahmar dari Kufah. Sang guru memerintahkan Abu Nuwas untuk berdiam diri di padang pasir bersama orang-orang Badui untuk mendalami dan memperluas pengetahuan Arabnya selama satu tahun. Setelah itu, ia hijrah ke Bagdad yang merupakan kota metropolis intelektual abad pertengahan di era kepemimpinan Khalifah Harun ar-Rayid.

Masa Muda Abu Nuwas
Abu Nuwas adalah pemuda yang berwajah bagus, banyak humor, cerdas, kuat dalam syair dan kesusasteraan, fanatik terhadap Yaman dan tidak kepada Mudhar. Para ulama dan para kritikus puisi banyak yang kagum kepadanya, karena Abu Nuwas banyak mengeluarkan syair untuk segala keperluan.
Masa mudanya penuh dengan kontroversi, sehingga membuat Abu Nuwas tampil sebagai tokoh unik dalam khazanah sastra Arab. Ketika masih muda, puisi-puisinya kerap diinspirasi dari khamr, salah satunya Khumuriyyat (penggambaran minuman keras). Adalah Dr. Muhammad an-Nuwaihi dalam karyanya Nafsiyyat Abi Nawas menyebutkan bahwa Abu Nuwas sangat tergantung pada minuman keras. Sebagai seorang penyair ia bisa disebut aneh. Tingkah lakunya selalu membuat orang mengaitkan karyanya dengan gejolak jiwanya, ditambah dengan sikapnya yang jenaka, perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Namun, di mata Ismail bin Nubakht, Abu Nuwas adalah seorang yang cerdas dan kaya pengetahuan. Sedang, dalam kitab al-Wasith fil Adabil Arabi wa Tarikhihi, digambarkan bahwa Abu Nuwas adalah seorang penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh sastrawan terkemuka angkatan baru.
Karir Abu Nuwas di dunia sastra pun makin kinclong setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Ar-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nuwas didaulat sebagai penyair istana (sya’irul bilad). Abu Nuwas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya mengubah puisi puji-pujian untuk khalifah.  Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam kisah 1001 Malam. Meski sering ngocol, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila ia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.
Bukan Abu Nuwas kalau tidak membuat sensasi. Suatu ketika Abu Nuwas membaca puisi khalifah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka. Karena perbuatannya tersebut akhirnya ia dipenjara. Setelah ia bebas, Abu Nuwas mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Setelah kejayaan kerajaan Barmak jatuh pada tahun 803 M, Abu Nuwas hijrah ke Mesir dan mengubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul al-Jami. Abu Nuwas akhirnya pulang kembali ke Bagdad setelah Harun ar-Rasyid meninggal dan digantikan oleh al-Amin.

Sang Penyair Khamr yang Bertaubat
Penyair khamr, begitulah sering kali Abu Nuwas disebut. Kecintaanya pada khamr telah merubah dunianya menjadi muram. Dalam puisinya yang bertema khamr itu ia sering menggambarkan kelezatan dan keburukannya, pemerasan, pengolahan, rasa dan baunya serta para peminumnya. Menurutnya, khamr adalah teman setianya yang dapat menenangkan hatinya yang gundah. Abu Nuwas juga sempat dituding sebagai penyair zindik atau pendosa gara-gara puisinya yang bertema mujuniyat (senda gurau atau canda) yang sering dianggap melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama.
Sejak Abu Nuwas mendekam dalam penjara, puisi-puisinya berubah menjadi puisi religius. Kepongahan dan aroma kendi tuak telah meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah SwT. Puisi-puisi pertaubatannya yang diciptanya menggambarkan perjalanan spiritual mencari hakikat Allah. Senandung syairnya yang menyentuh hati dan mengalun begitu merdu telah membawanya pada pertaubatan. Abu Nuwas berubah menjadi seorang yang tekun ibadah dan rendah hati. Dari beberapa anekdot yang dihimpun oleh para pengamat puisi, Abu Nuwas tergugah kesadarannya pada malam Lailatul Qadar. Abu Nuwas merasa dirinya adalah lalat. Bahkan lebih hina dari seekor lalat. Ia sadar, selama bertahun-tahun ia hidup tidak pernah membawa manfaat sebagaimana garam yang berfungsi sebagai pemberi kesedapan. Justru ia terus merusak merusak dan merusak. Padahal merusak dilarang keras oleh Allah SwT. Ia tersadar ketika membaca surat al-Qashash ayat 77 (Wala tabghi al-fasada fi ardhi, inna Allaha la yuhibbul mufsidin), sejak peristiwa malam Qadar tersebut, Abu Nuwas mengganti puisi-puisinya dengan dzikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar atau pub ke masjid. Ia beriktikad untuk tidak menjadi seekor lalat yang tak berguna. Biar tak menjadi apa-apa, asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang  lain.
Abu Nuwas adalah salah satu sastrawan Arab terbesar. Pengaruhnya begitu besar di jagad sastra. Omar Kayam dan Hafidz, dua sastrawan Islam yang juga kondang banyak mendapat pengaruh dari Abu Nuwas. Namanya semakin populer lantaran karikatur Abu Nuwas yang termuat dalam legenda 1001 Malam. Karya-karya puisinya telah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Puisi-puisi taubatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Puisi serta syair yang diciptakan menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Tuhan. Kehidupan rohaniyahnya terbilang berliku dan mengharukan. Setelah menemukan ‘Tuhan’ inspirasi puisinya bukan lagi untuk khamr, tetapi untuk nilai-nilai ketuhanan. Di akhir hayatnya ia menjalani hidup sebagai seorang zahid. Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya juga terdapat beberapa versi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung kota Bagdad.
Ketokohan dan figur Abu Nuwas ternyata tak hanya diakui oleh umat Islam saja, namun, juga oleh orang-orang Barat. Mereka memandang karya-karya Abu Nuwas adalah merupakan sebuah kekayaan peradaban dunia di Abad Pertengahan yang begitu berharga. Sayangnya, umat Islam terkadang tak menyadari dan bahkan ada pula yang tidak mengetahuinya sama sekali.
Jika sekarang sedang maraknya kebudayaan kita diakui oleh negara lain, maka jangan sampai kita sebagai umat Islam kecolongan budaya Islam yang begitu kita agungkan diakui oleh orang-orang Barat.

Sumber : http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=994

 

Tentang fiamsy

Dikata orang, saya ni orang idealis
1 Comment

Posted by pada 7 Oktober 2009 in Seputar Agama Islam

 

Kaitkata:

Satu Respon untuk Puisi Pertaubatan Abu Nuwas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.